
Asep Nayak, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua, Bawa Musik Tradisional Wisisi Menyapa Dunia
Jayapura, UM Papua — Asep Nayak, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua (UM Papua) dari Program Studi Ilmu Komunikasi konsentrasi Broadcasting, telah melanglang buana melalui musik. Terkini, ia turut tampil dalam festival budaya internasional Amis Music Fest pada tangal 9 November 2025 dan Tattoo Waves Fest Schedule di Museum of Prehistory pada tangal 6 dan 7 November 2025 di Taitung, Taiwan. Keikutsertaan Asep dalam kegiatan ini menjadi ajang penting dalam memperkenalkan musik tradisional Papua Pegunungan ke panggung Internasional.
Rektor UM Papua, Rustamadji, menyatakan rasa bangga dan penghargaan atas capaian Asep Nayak sebagai mahasiswa UM Papua. Ia juga berkomitmen, ke depan lebih memberi dukungan pada mahasiswa berprestasi. Hal ini dikatakannya kepada Tim Humas UM Papua Rabu (27/11/2025).
Asep Nayak dapat dikatakan nama panggung. Ia juga mengenalkan dirinya sebagai Asep Logo. Di kampus secara resmi namanya terdaftar sebagai Lakius Logo. Dengan nama itu pula ia diundang ke Taiwan.
Tampaknya Lakius nyaman dipanggil sebagai Asep. Pada sebuah podcast ia katakan, nama Nayak dipilih karena ia ingin mempopulerkan daerah asalnya, bukan sebatas nama marganya.
Ditemui Tim Humas UM Papua Senin (24/11) Asep menjawab pertanyaan dan bercerita tentang perjalanan bermusiknya hingga menggema ke berbagai penjuru dunia.
Saat ini Asep sedang mengikuti KKN non-reguler karena harus menghadiri undangan festival tersebut. Mahasiswa asal Lembah Baliem ini dikenal aktif dalam melestarikan musik tradisi yang kini mulai diperkenalkan secara luas sebagai musik wisisi. Musik tersebut dinyanyikan dalam berbagai konteks budaya, mulai dari acara syukuran, kedatangan tamu, duka, hiburan, hingga nyanyian lantunan anak-anak.
Dalam festival itu, Asep menampilkan dua instrumen utama, yakni pikon dan gitar. Baginya, musik bukan hanya hiburan tetapi bagian dari tradisi budaya dan ritual suku Dani, Yali, Lani dan Mee di Papua Pegunungan, sekaligus berkembang menjadi sarana hiburan. Ia sepakat bahwa musik tradisional bukan hanya seni, tetapi juga identitas budaya yang harus dijaga dan dilestarikan setiap generasi.
“Saya ingin mengembangkan dan memperkenalkan musik tradisional kami ke masyarakat luas, karena masih banyak yang belum mengenal tradisi kami,” ujar Asep.
Asep mengakui bahwa selama perjalanan kariernya, ia tidak menerima dukungan dari lembaga manapun, khususnya pendanaan, bahkan dari kampus. Ia masuk kuliah pada 2019, namun pada 2020–2022 ia lebih banyak fokus mendalami musik dan tampil di berbagai festival, baik nasional maupun internasional.
Asep telah membawa musik Papua ke Jakarta Pestapora Fest, Ynchronize, G20 dan Green Peace Fest, Bali Yoiland Fest, Jogja Bienalle, Arab Film Sharjah Art Foundation, Australia LA and RISING Festival Presents a Night of Rhythmic Mutations, Jerman CTM, Afrika Nyege Nyege Fest, hingga Taiwan Sonic Shaman Fest, Amis Music Fest dan ’Tattoo Waves Fest Schedule.
“Ketika saya tampil dan menyebut berasal dari UM Papua, banyak orang yang bangga. Saya merasa membawa nama baik kampus,” ungkapnya. Asep mengimbuhkan harapannya, kampus lebih memberi dukungan dan perhatian bagi mahasiswa berprestasi seperti dirinya, teman-temannya, dan adik-adik tingkatnya di UM Papua.
Selain dirinya yang menekuni produksi musik atau soundtrack, Asep menyebut juga rekan-rekannya seperti Ester Bagau yang menurutnya telah yudisium, juga Orsila yang menonjol sebagai atlet dan tokoh film (Orpa Film).
Persiapan khusus sebelum tampil di festival tidak menjadi kendala bagi Asep. Ia telah menekuni musik sejak tahun 2012 saat duduk di bangku SMP, sehingga setiap kali mendapat undangan tampil, ia sudah siap dengan instrumen dan materi penampilannya.
“Untuk persiapan, saya tidak melakukan persiapan khusus, karena semua alat musik sudah saya miliki sejak lama. Sejak tahun 2012, saat masih SMP, saya sudah fokus pada musik hingga sekarang. Jadi, jika diberikan kesempatan tampil, saya sudah tahu apa yang akan saya bawakan,” ujarnya.
Keikutsertaannya dalam festival ini didasari oleh relevansi visi acara tersebut, yang menekankan pelestarian budaya masyarakat adat. Sebelumnya Asep juga pernah tampil di Taiwan dalam Sonic Shaman Fest dan sempat diwawancarai tentang musik sebagai identitas budaya, yang kemudian membuatnya kembali diundang.
“Sebelumnya, saya juga pernah tampil di Taiwan dalam festival Sonic Shaman Fest, dan saya sempat diwawancara terkait musik sebagai identitas budaya saya. Mereka mulai memahami bahwa musik ini adalah musik tradisi, sehingga saya kembali diundang dan diminta untuk diwawancara lebih dalam,” ungkapnya.
Selain tampil, Asep juga mempresentasikan film dokumenter berjudul “Wisisi Nit Meke” (2021) karya sutradara Boni Lany juga anak asli Lembah Baliem, Jayawijaya, Papua Pegunungan. Film ini meraih penghargaan bergengsi pada Festival Film Indonesia (FFI) 2023, meraih Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik.
“Wisisi Nit Meke”, adalah film inspiratif tentang perjalanan seorang konten kreator muda, yaitu Asep Nayak sendiri, dan Nikolas Nayak, yang menekuni aransemen musik wisisi dengan sentuhan kekinian.
Sekali lagi untuk diketahui, musik wisisi, yang merupakan ciri khas Papua Pegunungan, semakin mendapat perhatian tidak saja dari dalam Papua, namun juga perhatian hingga mancanegara, termasuk mewakili Indonesia ke kompetisi berikutnya di Film Sharjah Art Foundation.
“Saya tidak hanya tampil, tetapi juga mempresentasikan film dokumenter Wisisi Nit Meke yang pada 2023, film tersebut berhasil meraih Piala Citra untuk kategori Film Dokumenter Pendek Terbaik, dan lanjut ikut kompetisi di di Film Sharjah Art Foundation. Namun di sana, pemenang lebih banyak dipilih yang bertema politik, sementara film Wisisi Nit Meke tentang budaya, jadi tidak lolos,” tuturnya.
Secara akademik, Asep berkomitmen melestarikan musik tradisional setiap suku, khususnya suku Dani. Ia melakukan pelestarian melalui penulisan. Judul skripsi yang dikerjakannya adalah “Analisis Semiotika Lagu Wisisi Sebagai Upaya dalam Melestarikan Budaya Wamena Papua Pegunungan”. Ia juga aktif mendokumentasikan film sebagai karya visual, serta aktif dalam diskusi-diskusi budaya.
“Saya berusaha melestarikan musik tradisional, terutama dari suku saya, suku Dani, lewat tulisan, video, dan diskusi,” tuturnya.
Di Taiwan, Asep terlibat dalam diskusi bersama mahasiswa dosen antropologi dari Taiwan di berbagai ruang publik, membahas hubungan antara musik dan identitas budaya.
“Kalau kita belajar, tetapi tidak melestarikan bahasa dan budaya sendiri, maka kita akan kehilangan jati diri,” jelasnya.
Asep menyampaikan bahwa seluruh kebutuhan administrasi keberangkatannya difasilitasi langsung oleh penyelenggara festival. Satu-satunya hal yang perlu dilakukan adalah menyampaikan surat undangan kepada kampus agar dapat memperoleh izin keberangkatan. Jika izin tidak diberikan, ia tetap berangkat atas nama pribadi.
“Semua urusan administrasi sudah diurus oleh panitia festival, jadi saya tidak perlu menyiapkan banyak hal. Karena saya masih mahasiswa, surat undangan hanya perlu disampaikan ke kampus untuk minta izin keberangkatan. Kalaupun kampus tidak mengizinkan, saya tetap berangkat atas nama pribadi,” pungkasnya.



