
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua Raih 2 Medali Emas dan 1 Medali Perunggu dalam Kejuaraan Karate Open Tournament di Uncen
Jayapura, UM Papua- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua. Salah satu mahasiswa terbaik UM Papua, Nur Atika berhasil meraih dua medali emas dan satu medali perunggu dalam ajang Kejuaraan Karate Open Tournament, Antar Mahasiswa dan Festival Piala Rektor Uncen IX se-Tanah Papua.
Kejuaraan tersebut diikuti oleh berbagai perguruan tinggi di Kota Jayapura. Universitas Muhammadiyah Papua berhasil membawa pulang medali tersebut.
Ismail Maswatu, S.E., S.H., M.H., dosen pada Program Studi Hukum UM Papua, sekaligus pendamping mahasiswa pada kejuaraan tersebut, mengungkapkan bahwa kunci utama keberhasilan adalah motivasi dan pembentukan mental juara.
“Strateginya tentu dengan memberikan motivasi yang kuat dan menyiapkan mental. Karena pada olahraga bela diri, bukan hanya fisik yang penting, tapi juga mental. Kami terus memberikan dukungan dan bimbingan agar mahasiswa bisa tampil maksimal,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa proses latihan dilakukan secara bertahap melalui masa persiapan umum, khusus, hingga masa kompetisi.
“Atika ini sudah berlatih sejak SD, jadi pengalaman latihannya sudah panjang. Menjelang pertandingan, intensitas latihannya kami tingkatkan agar lebih siap menghadapi kompetisi,” tambahnya.
Sebelum mengikuti kejuaraan ini, Nur Atika juga sempat mewakili perguruannya dalam ajang Piala Bupati Timika.
“Atika juga sempat mewakili perguruannya dalam ajang Piala Bupati Timika dan berhasil meraih satu medali perak dan satu perunggu. Nah, di Uncen kali ini, dia tampil luar biasa juara 1 kelas kumite, juara 1 kelas kata, dan juara 3 Best of The Best,” jelasnya.
Kategori Best of The Best sendiri merupakan ajang mempertemukan para juara dari semua kelas untuk menentukan juara terbaik di antara juara lainnya. Dengan begitu, dalam satu kompetisi saja, Atika berhasil membawa pulang 3 medali, sebuah pencapaian yang membanggakan.
Keberhasilan ini juga dinilai memiliki makna penting bagi citra Universitas Muhammadiyah Papua di dunia olahraga mahasiswa.
“Prestasi seperti ini seharusnya mendapat perhatian lebih dari kampus, karena hasilnya bisa digunakan untuk mendukung akreditasi prodi maupun universitas. Sertifikat dan penghargaan non-akademik seperti ini sangat berharga,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa meski perhatian terhadap atlet masih minim, dedikasi mahasiswa tetap tinggi untuk membawa nama baik universitas.
“Mahasiswa itu punya dua jenis prestasi, akademik dan non-akademik. Kalau satu lemah, yang lain bisa menutupi. Jadi, prestasi seperti ini sangat penting untuk keseimbangan reputasi kampus,” ujarnya.
Sebagai dosen pendamping, Ismail tidak hanya hadir secara administratif, tetapi juga terlibat langsung di lapangan sebagai motivator.
“Kalau saat latihan itu ada pelatihnya sendiri, tapi saat pertandingan saya ikut mendampingi untuk memberikan semangat. Karena dia mewakili mahasiswa UMP lainnya, jadi motivasinya harus kuat. Dengan hanya satu atlet, kami bisa finish di posisi kedua dari sepuluh perguruan tinggi; itu luar biasa,” jelasnya.
Ismail berharap agar prestasi ini menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk terus berkembang.
“Saya berharap Atika tidak cepat puas dengan hasil yang sudah dicapai. Ke depan persaingan pasti lebih ketat, jadi harus lebih giat berlatih. Walaupun mungkin belum banyak dukungan, semangat jangan sampai padam. Hasilnya sudah luar biasa karena namanya sekarang masuk talent scouting untuk Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) 2026. Besar kemungkinan dia akan mewakili Papua,” harapnya.
Sementara itu, Nur Atika menceritakan proses panjang yang ia jalani sebelum berhasil meraih tiga medali tersebut.
“Sebelum tanding, saya latihan selama satu bulan penuh. Fokus saya di latihan fisik dan teknik karena itu yang paling penting,” tuturnya.
Atika mengaku telah menekuni karate sejak duduk di bangku kelas 5 SD. Menurutnya, olahraga bela diri ini bukan hanya soal prestasi, tetapi juga tentang membangun disiplin dan kemampuan melindungi diri.
“Saya pilih karate karena selain bisa berprestasi, juga bermanfaat untuk melindungi diri,” ujarnya.
Atika berlatih di PTC Jayapura, tempat ia mengasah kemampuan dan semangatnya. Dukungan besar datang dari orang-orang terdekatnya.
“Yang paling berperan itu orang tua, pelatih, pacar, dan teman-teman saya,” tambahnya sambil tersenyum.
Ia pun tak menutupi bahwa menjaga mood latihan adalah tantangan terbesar selama masa persiapan dan kompetisi. Namun semua terbayar dengan hasil yang membanggakan.
“Pastinya sangat bangga bisa meraih hasil yang memuaskan,” ucapnya.
Sebagai atlet muda berprestasi, Atika berharap ke depannya cabang olahraga karate di Tanah Papua dapat semakin berkembang.
“Semoga ke depan karate di Papua semakin maju dan bisa menghasilkan lebih banyak atlet berprestasi,” harapnya.
Peliput, Fotografer: Lala
Penulis: Nia
Editor: Dewi



