
Perdana, Universitas Muhammadiyah Papua Gelar Yudisium Magister Ilmu Komunikasi
Jayapura, UM Papua Universitas Muhammadiyah Papua menggelar Yudisium Magister Ilmu Komunikasi angkatan pertama pada Senin (2/2/2026), bertempat di Hotel Horison Kotaraja. Yudisium Magister Ilmu Komunikasi ini diikuti oleh 22 Mahasiswa yang telah resmi mendapatkan gelar akademik.
Rektor Universitas Muhammadiyah Papua, Dr. Rustamadji M.Si, dalam sambutannya menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta yudisium yang telah menuntaskan studi magister. Ia menegaskan bahwa gelar Magister Ilmu Komunikasi yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan profesional, baik bagi lulusan yang ingin berkarier sebagai dosen, melanjutkan studi doktoral di dalam maupun luar negeri, maupun untuk penguatan posisi bagi yang telah bekerja.
“Yang pertama saya ucapkan selamat kepada saudara-saudara yang hari ini telah menyelesaikan Studi Program Magister Ilmu Komunikasi. Ijazah Magister dari Universitas Muhammadiyah Papua bisa digunakan untuk melamar sebagai dosen, mengurus Nomor Induk Dosen Nasional, maupun melanjutkan studi doktor. Bagi yang sudah bekerja, tentu gelar ini juga sangat bermanfaat,” ujar Rektor.
Ia berharap capaian akademik tersebut membawa keberkahan, kebaikan, dan manfaat tidak hanya bagi diri pribadi, tetapi juga bagi keluarga dan masyarakat luas. Rektor juga mengingatkan bahwa para lulusan kini menjadi bagian dari keluarga besar Muhammadiyah dan alumni Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor memaparkan bahwa hingga saat ini terdapat 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia, termasuk lima PTM di Tanah Papua, yakni Universitas Muhammadiyah Sorong (1982), Universitas Muhammadiyah Papua (2000), Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong (2004), Universitas Muhammadiyah Papua Barat di Manokwari (2007), dan Universitas Muhammadiyah Teluk Bintuni (2025).
Ia menekankan bahwa keberadaan PTM merupakan wujud nyata dakwah pencerahan Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam QS. Ali Imran ayat 104, yaitu menebar kebaikan, mencegah kemunkaran, dan membangun organisasi yang solid.
“Perguruan Tinggi Muhammadiyah hadir untuk menebar kebaikan, termasuk di Tanah Papua. Janji Allah, mereka yang menebar kebaikan adalah orang-orang yang beruntung, dan keberuntungan itu harus bersifat spektakuler, bukan biasa-biasa saja,” tegasnya.
Rektor juga mengajak para lulusan untuk tidak hanya mengandalkan hard skill, tetapi terus mengasah soft skill, terutama kecerdasan emosional dan kepekaan sosial. Menurutnya, kemampuan merasakan dan menjawab kebutuhan orang lain merupakan bagian penting dari kepemimpinan dan pengabdian di tengah masyarakat Papua.
“Kita harus mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain dan segera menjawabnya dengan tindakan nyata. Itu adalah bentuk kecerdasan emosional dan soft skill yang sangat penting,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mendorong para lulusan menjadi agen inovasi dan trendsetter, bukan sekadar pengikut. Salah satu kunci utama kesuksesan yang ditekankannya adalah tidak mengeluh dalam menghadapi tantangan.
“Saya hanya pesan satu saja kalau saudara-saudara mau jadi orang hebat, satu saja ingat jangan mengeluh. Kalau dulu, “orang lain bisa, saya juga bisa itu”, itu sudah slogan hebat. Tetapi harus diubah “kalau orang lain tidak bisa, saya harus bisa” Itu baru hebat. Karena kalau “orang lain bisa, saya harus bisa” itu masih follower, menurut media sosial itu follower. Follower sejati mengikuti. Tapi, walaupun orang lain tidak bisa saya harus bisa itu baru trendsetter, itu baru inovator. Saya minta saudara-saudara menjadi agen inovasi. Agen ya kuncinya jangan mengeluh. Karena kalau orang suka mengeluh dalam bentuk apapun, nanti dia tidak sadar akan naik derajat pengeluh tingkat tinggi. Kalau sudah jadi pengeluh tingkat tinggi apapun yang ada di depannya itu akan dijadikan bahan keluhan,” demikian prinsip yang dipegang Rektor.
Rektor menyampaikan harapannya, bahwa Yudisium Magister Ilmu Komunikasi angkatan pertama merupakan bukti keberhasilan awal penyelenggaraan Program Magister Ilmu Komunikasi di UM Papua. Keberhasilan tersebut, menurutnya, harus menjadi pijakan untuk meraih capaian-capaian berikutnya.
“Yudisium yang pertama ini adalah salah satu bukti keberhasilan awal Program Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Muhammadiyah Papua. Keberhasilan awal ini harus segera dilanjutkan dengan keberhasilan-keberhasilan selanjutnya. Dalam surat Al-Insyirah
disebutkan yang artinya jika kamu sudah berhasil, maka segeralah melangkah menuju keberhasilan berikutnya,” ujarnya.
Ia juga memberikan pesan khusus kepada mahasiswa agar tetap menjaga semangat belajar dengan mengimbangi aktivitas akademik dan pengalaman kerja. Ia mendorong mahasiswa untuk kuliah sambil bekerja dan aktif dalam kegiatan masyarakat.
“Mahasiswa justru saya sarankan kuliah sambil bekerja. Jangan hanya fokus kuliah saja. Karena kalau sambil bekerja dan aktif di masyarakat, itu artinya sudah start lebih dulu. Ketika lulus, dia tidak memulai dari nol lagi,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Rektor kembali mengucapkan selamat kepada seluruh peserta yudisium dan berharap para lulusan Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Papua mampu membawa manfaat nyata bagi diri sendiri, keluarga, institusi, dan masyarakat.
“Tahniah, selamat kepada seluruh mahasiswa yang hari ini diyudisium. Semoga ilmu yang diperoleh membawa kebaikan dan keberkahan bagi semua,” tutupnya.
Sebagai perwakilan mahasiswa, Simon, salah satu peserta yudisium, menyampaikan kesan dan pesan mewakili seluruh lulusan.
“Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Universitas Muhammadiyah Papua, khususnya para dosen pembimbing dan pengajar yang tidak hanya memberikan teori komunikasi, tetapi juga memperluas cakrawala berpikir kami. Terima kasih juga kepada orang tua, keluarga, dan teman-teman angkatan yang selalu menjadi pendukung utama dalam perjalanan akademis ini,” ujar Simon.
Ia juga menyampaikan kebanggaannya menjadi bagian dari Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Papua. Menurutnya, dinamika diskusi akademik yang kritis dan relevan dengan perkembangan industri media serta komunikasi digital menjadi pengalaman berharga yang membentuk cara berpikir mahasiswa.
“Menjadi bagian dari Magister Ilmu Komunikasi di sini adalah perjalanan yang luar biasa. Kami belajar bahwa komunikasi bukan sekadar bertukar pesan, tetapi tentang membangun pemahaman dan dampak sosial. Lulus dari sini bukanlah garis finish, melainkan titik awal untuk mengimplementasikan ilmu di tengah masyarakat. Saya bangga menjadi bagian dari keluarga besar Universitas Muhammadiyah Papua,” ungkapnya.
Simon berpesan kepada rekan-rekan sejawat agar memaknai kelulusan bukan sebagai akhir perjalanan, melainkan sebagai awal untuk mengimplementasikan ilmu komunikasi di tengah masyarakat.
“Teruslah menjadi komunikator yang berintegritas. Dan untuk almamater tercinta, semoga prodi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Papua terus mencetak lulusan yang inovatif dan mampu menjawab tantangan zaman,” tutupnya.



