
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua Raih Prestasi Gemilang Nasional di MUNAS APSI PTMA 2026
Jayapura, UM Papua — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang nasional Musyawarah Nasional Asosiasi Program Studi Informatika Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (MUNAS APSI PTMA 2026) yang diselenggarakan di Sukabumi, Jawa Barat pada 14–17 April 2026.
Dalam kompetisi tersebut, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni Juara 1 Lomba Short Video (Non-Akademik), diketuai oleh Arjuna Adji Pratama dari Program Studi Ilmu Komunikasi, dengan anggota Richard Arky C. Imkotta (Ilmu Komunikasi), A. Novi Wanimbo (Ilmu Komunikasi), dan Laila Zaskia (Ilmu Komputer).
Juara 2 Karya Tulis Ilmiah bidang Pengembangan Teknologi AI (Akademik), diketuai oleh Safrudin Lambea dari Program Studi Ilmu Komputer, dengan anggota Ade Jaenuddin (Ilmu Komunikasi) dan Novita Putri Wonorengga (Psikologi).
Serta Juara 3 Lomba Short Video (Non-Akademik)diketuai oleh Rafif Baldwin Kay dari Program Studi Ilmu Komputer, dengan anggota Nur Rhamdania (Ilmu Komunikasi), Jhen Klarra Rumboirusi (Ilmu Komputer), Muhammad Hady Watsiq (Psikologi), dan Alsef Theys Wenggi (Ilmu Komputer).
Pengumuman pemenang yang dilaksanakan pada 15 April 2026 menjadi momentum penting yang tidak hanya menghadirkan kebanggaan bagi civitas akademika, tetapi juga menegaskan bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua mampu bersaing secara kompetitif di tingkat nasional melalui karya yang inovatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Rektor Dr. Rustamadji, M.Si turut memberikan apresiasi atas capaian tersebut.
“Prestasi ini merupakan hasil luar biasa yang menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas Muhammadiyah Papua mampu meraih kemenangan dan mengungguli ratusan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Indonesia. Hasil terbaik akan tercapai apabila dilakukan secara bersama-sama dengan kerja sama tim yang solid,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa prestasi yang telah diraih harus terus dipertahankan dan ditingkatkan.
“Kampus sebagai wadah mahasiswa akan terus mendukung setiap prestasi yang diraih. Capaian ini bukan akhir, melainkan awal untuk meraih prestasi-prestasi yang lebih tinggi di masa yang akan datang,” tegasnya.
Keberhasilan ini merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari mahasiswa lintas program studi Ilmu Komputer, Ilmu Komunikasi dan Psikologi, dosen pembimbing, hingga dukungan institusi. Dalam proses tersebut, mahasiswa dituntut untuk mampu mengelola waktu, menjaga komitmen, serta membangun komunikasi yang efektif di tengah berbagai keterbatasan.
Dalam keterangannya, dosen pada Program Studi Ilmu Komputer, sekaligus dosen pembimbing, Nur Fitrianingsih Hasan, menyampaikan bahwa capaian ini bahkan melampaui ekspektasi awal tim.
“Saat pertama kali mengetahui hasilnya, saya benar-benar kaget. Awalnya kami hanya berharap bisa masuk tiga besar, tetapi ternyata meraih juara 1, 2, dan 3 di tingkat nasional. Ini jelas di luar ekspektasi kami. Alhamdulillah, kami sangat senang dan bersyukur,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses yang konsisten dan terarah, bukan semata-mata karena target kemenangan semata.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kekuatan utama tim terletak pada proses pengembangan ide yang dilakukan secara intensif sejak awal.
“Keunggulan karya kami ada pada keunikan ide yang dibangun sejak awal melalui brainstorming yang kuat di setiap pertemuan. Selain itu, komitmen tim juga menjadi faktor utama yang akhirnya membawa kami meraih kemenangan di tingkat nasional,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kemampuan tim dalam mengolah ide menjadi konsep yang aplikatif menjadi kunci penting dalam menghasilkan karya yang kompetitif.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal manajemen waktu.
“Tantangan terbesar kami adalah waktu. Proses persiapan berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, hanya sekitar satu bulan, ditambah dengan rutinitas dosen dan mahasiswa, serta bertepatan dengan bulan Ramadan dan Idulfitri,” ujarnya.
Ia menilai bahwa kondisi tersebut menuntut seluruh anggota tim untuk tetap produktif dan disiplin dalam menyelesaikan setiap tahapan pekerjaan.
Dalam proses pembimbingan, peran penting juga datang dari Aisyah, selaku Ketua Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) dan dosen Program Studi Ilmu Komunikasi yang turut dilibatkan sebagai pembimbing non-akademik.
“Untuk proses pembimbingan, saya memang mengajak Ibu Aisyah selaku Ketua LPM untuk mendampingi, karena tujuan dari kegiatan ini tidak hanya prestasi mahasiswa, tetapi juga berkaitan dengan akreditasi program studi dan institusi,” tambahnya.
Keterlibatan Ibu Aisyah dinilai memberikan penguatan dari sisi mutu, sekaligus memastikan karya yang dihasilkan selaras dengan standar akademik dan kebutuhan institusi.
Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak di lingkungan kampus.
“Peran penting tentu datang dari pimpinan universitas yang telah memberikan kepercayaan dan dukungan. Selain itu, Ibu Aisyah sebagai pembimbing non-akademik, serta para dosen lain juga turut berkontribusi besar dalam proses ini,” tuturnya.
Hal ini menunjukkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan institusi.
Dalam proses pembimbingan, komunikasi menjadi kunci utama yang terus ditekankan.
“Saya selalu menekankan komunikasi dan komitmen. Progres harus terus dipantau, dan setiap kendala harus segera didiskusikan agar bisa ditemukan solusi bersama,” tegasnya.
Ia menilai bahwa komunikasi yang baik mampu menciptakan suasana kerja tim yang solid dan saling mendukung.
Sementara itu, Ketua Tim Juara 1 Lomba Short Video, Arjuna Adji Pratama Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi , menyampaikan bahwa keberhasilan timnya tidak terlepas dari kerja sama yang baik antar anggota.
“Ide yang kami angkat merupakan hasil kolaborasi bersama. Kami saling melengkapi dan menyesuaikan dengan kebutuhan lomba, meskipun dengan keterbatasan perangkat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa kreativitas menjadi kunci utama dalam mengatasi keterbatasan teknis yang dimiliki.
“Kami memaksimalkan skill yang ada, termasuk penggunaan drone untuk menghasilkan visual yang lebih menarik,” jelasnya.
Ia juga memaparkan bahwa pembagian peran dalam tim dilakukan secara jelas untuk mendukung efektivitas kerja.
“Tim kami terdiri dari saya sebagai ketua, Richard yang mengatur konsep, serta Novi dan Laila sebagai pemeran utama,” tambahnya.
Dalam prosesnya, tim juga menghadapi kendala teknis yang cukup menantang.
“Kami sempat mengalami kendala teknis dan miskomunikasi, tetapi kami atasi dengan voice over tambahan dan editing yang lebih kreatif,” ujarnya.
Ia mengaku bahwa pencapaian ini sempat tidak terbayangkan sebelumnya.
“Kami benar-benar kaget dan tidak percaya bisa meraih juara 1,” tuturnya.
Pada kategori akademik, Ketua Tim Juara 2 Karya Tulis Ilmiah, Safrudin Lambea Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, menjelaskan bahwa karya yang diangkat berfokus pada solusi berbasis teknologi untuk pendidikan.
“Karya tulis kami berjudul ‘AI-Personalized Mentor untuk Meningkatkan Resiliensi Akademik dan Inklusi Pendidikan di Wilayah 3T Papua’,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari permasalahan nyata di lapangan.
“Permasalahan utama yang kami angkat adalah keterbatasan akses pendidikan dan rendahnya resiliensi akademik siswa,” jelasnya.
Sebagai solusi, tim mengembangkan konsep teknologi berbasis kecerdasan buatan.
“Kami merancang AI chatbot berbasis NLP yang dapat membantu siswa tetap termotivasi,” tambahnya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan tim merupakan hasil kerja kolaboratif.
“Semua anggota memiliki peran penting karena proses penyusunan dilakukan melalui diskusi intensif,” ujarnya.
Namun demikian, tim juga menghadapi tantangan dalam proses pengerjaan
“Tantangan terbesar kami adalah pengumpulan data yang bertepatan dengan masa libur Lebaran,” tuturnya.
Ia mengungkapkan rasa bangga atas pencapaian yang diraih.
“Rasanya seperti mimpi. Kami sangat senang dan bangga,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Tim Juara 3 Lomba Short Video, Rafif Baldwin Kay Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, menekankan pentingnya kebersamaan dalam tim.
“Kami sepakat bahwa seluruh anggota tim ikut tampil agar kebersamaan tim lebih terasa,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa peran dosen pembimbing sangat membantu dalam proses pengerjaan.
“Dosen pembimbing sangat berperan dalam memberikan arahan dan motivasi,” jelasnya.
Dalam menghadapi kendala, tim mengedepankan komunikasi sebagai solusi utama.
“Kami mengatasi kendala dengan menjaga komunikasi dan berdiskusi bersama,” tambahnya.
Ia mengaku bersyukur atas pencapaian yang diraih bersama timnya.
“Kami merasa sangat senang, bangga, dan bersyukur,” tuturnya.
Menutup pernyataannya, dosen pembimbing menyampaikan harapan agar prestasi ini dapat terus berlanjut di masa depan.
“Prestasi ini harus dijaga melalui kolaborasi dan regenerasi,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan ini diharapkan menjadi awal dari pencapaian yang lebih besar, tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga hingga ke tingkat internasional.



